[Cerpen] Qadosh, Qadosh

By Calvin Michel Sidjaja | Oct 6, 2008
   Show Original   

Qadosh, Qadosh

Aku selalu diberitahukan oleh guru agamaku, kebenaran adalah sesuatu yang absolut. Aku tidak boleh ragu atau aku akan mati. Itu sebabnya aku tidak boleh bertanya melebihi apa yang diajarkan oleh guru agamaku. Dari dulu aku penasaran kenapa Adam dan Hawa selalu disalahkan karena memakan buah pengetahuan yang baik dan benar.

Seluruh teman-teman yang seiman denganku biasanya mengkomplain, andaikan nenek moyang manusia tidak memakan buah itu, kita pasti masih bersenang-senang di Firdaus.

Ah ya, aku berpikir, itu ide yang bagus, andaikan kita tidak diusir oleh tuhan dari taman Eden, kita pasti masih bahagia selamanya. Ah astaga, ada apa denganku? Aneh sekali, tanpa sadar aku berpikir akan tuhan dengan memakai huruf kecil. Aku langsung berdoa meminta pengampunan, aku telah melanggar sepuluh perintah Musa, aku telah menyebut nama Tuhan dengan tak layak. Tapi kenapa ya? Kenapa aku melakukannya? Aku membuat tanda salib, meminta pengampunan, karena aku tak mau dihukum.

Sedari kecil aku diberitahukan oleh agamaku, Tuhan adalah makhluk maha suci, saat kita masuk ke dalam Kerajaan surga, kita tidak diperbolehkan memiliki dosa sedikit pun. Tuhan maha suci, maha kudus, jika kita ada kesalahan sedikit saja, walau jumlah kebaikan kita bergunung-gunung, tapi semua itu sia-sia jika kita memiliki satu pasir dosa.

Aku terkadang berpikir, kenapa? Tapi biasanya aku diberitahu, Tuhan selain pengasih, juga adil, itu sebabnya dia menciptakan Jahannam, tempat bagi orang-orang jahat dan tidak setia padanya.
Sedari kecil, ajaran agama adalah kebenaran tertinggi yang dimiliki otakku. aku selalu bermimpi rasanya masuk ke surga, dan berbahagia memuji-muji tuhan, siang dan malam.
Bahagia
Siang dan malam.
Benar…kan?

*

Sekolahku bernama St. Lucas. Aku bersekolah disini semenjak TK, pelajaran agama yang kudapatkan tentu saja sama yang didapatkan dengan sekolah lain. Kami hanya boleh menerima tanpa bertanya. Kalau kami bertanya, biasanya guru akan menegur kami sebagai murid-murid yang tidak menghargai kematian-Nya.

Mereka mengatakan kalau aku bertanya, kalau aku kritis , aku tidak bisa masuk surga. Hanya ada seratus empat puluh empat ribu yang akan diselamatkan, dan sisanya musnah dalam api Jahannam. Memikirkannya saja membuatku takut, itu sebabnya aku selalu menjadi anak baik. Setiap hari minggu aku pergi ke rumah ibadah, berdoa, meminta pengampunan dosa, berbuat kebaikan dan kebajikan, agar sewaktu-waktu saat aku mati nanti, aku akan diangkat ke surga.

Lalu aku akan berbahagia…kan?

*

Istirahat siang. Kepalaku pening. Aku pergi ke lantai paling atas dari sekolah kami. Di atap St. Lucas ada ruang lapang, sehingga kalau kita tidak kebagian kursi di kantin, kita bisa mengungsi ke tempat ini.
Tapi tempat ini pun biasanya sepi, karena agak jauh dibandingkan kantin, itu sebabnya aku ke sini, mencari tempat yang tidak ribut agar bisa sedikit relaks.
Ada seorang gadis disana. Seorang anak perempuan, dia tampak duduk santai di sudut, membaca buku di antara bayang-bayang. Aku tidak mengenal, jadi aku tidak menyapanya.
Tapi tidak kusangka, gadis itu tiba-tiba menutup bukunya, lalu dia berjalan ke arahku.

“Saya sudah menunggu kamu.” katanya.

Menungguku? Apa maksudnya? Apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?

“Kita belum saling mengenal. Tapi aku mengenalmu, bahkan sebelum kamu lahir.” kata gadis itu.
Aku terdiam. Candaan tidak lucu. Apa gadis ini sakit?

Tapi gadis itu tersenyum, dia tampak tidak bercanda, ada sebuah pesona misterius yang terpancar dari mukanya.

“Bukankah kamu yang bertanya mengenai kebenaran dunia? Bukankah kamu ingin melihat kebahagiaan kekalmu?” tanyanya.

Astaga, darimana gadis ini tahu keraguanku? Aku tidak pernah mengatakannya pada siapa-siapa, bahkan kepada orang yang telah melahirkanku. Bahkan untuk memikirkannya aku merasa sangat berdosa. Oh Tuhan maha baik, ampuni aku karena meragukanmu!

“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa wajahmu pucat begitu? Apa kamu merasa ragu-ragu adalah hal yang salah?” tanyanya.
Aku mengangguk.

“Aku… aku tidak boleh ragu. aku diajar begitu, kenapa kamu berkata seperti begitu? Apa kamu diperbolehkan ragu pada apa yang kamu percayai?” tanyaku padanya.

Dia tersenyum.

“Jika kamu mencintai Dia, kamu justru harus meragukan tuhan pencipta dunia ini.” katanya gadis itu.
Aku merasa kaget mendengar kata-katanya.
“Apa… maksud… kamu?” tanyaku.
“Aku sudah katakan padamu, aku mengenal kamu, bahkan sebelum kamu di rahim ibumu.” katanya
Gadis ini sinting. Dia mengatakan hal-hal yang tidak masuk diakal.

Aku lari dari tempat itu. Lari dari senyuman gadis itu. Lari dari pertanyaan dan pernyataan yang mungkin akan ia lontarkan dan membuatku ragu. Tidak. Tidak. Jangan berpikir yang macam-macam! Jangan… aku tidak butuh. Tolong jangan usik diriku. Jangan usik diriku. Biarkan aku tetap seperti ini.
Oh Tuhan! Maafkan aku kalau hambamu meragukanmu!

*

Hari esoknya, gadis itu masih juga disana. Kita belum pernah menanyakan nama masing-masing, tapi kita saling tahu. Kurasa itu bisa jadi alasan yang cukup agar aku bisa duduk begitu saja di sampingnya. Mataku melirik buku yang ia pegang.
Tampaknya dia membaca buku yang sama dengan yang ia baca kemarin. Buku itu tidak ditulis dalam huruf latin, tapi huruf yang ditulis dalam bentuk kotak-kotak. Huruf apa itu? Aku bertanya-tanya.
“Banyak hal yang tertulis di bahasa lain, tapi tidak dimengerti karena kita tidak bisa membacanya.” katanya.

“Buku apa yang kamu baca?” tanyaku.
“Salah satu buku yang memberikan kebenaran yang tidak akan bisa kamu pahami.” katanya.
“Kebenaran yang tidak bisa kupahami?” tanyaku, heran akan kata-katanya.

Gadis itu tidak langsung menjawab. Dia menatapku agak lama. Wajahnya cantik, agak sedikit coklat, tertutup poni sehingga membuatnya tampak manis. Tapi wajah itu menunjukkan ekspresi… prihatin.
Dia lalu mengela napas, tersenyum pahit.

“Kenapa kamu berekspresi begitu? Apa kamu mau mengatakan mukaku menyedihkan?” tanyaku, tersinggung.
Gadis itu menggeleng.

“Kenapa kamu memusingkan wajah? Apakah bedanya kamu dengan pohon, rumput, dan hewan? Kamu memiliki tubuh yang bisa tua, tapi kamu bisa berpikir dan menangkap realitas yang terjadi, itu sebabnya manusia berada di puncak ekosistem.” katanya.
Kata-kata gadis itu ada benarnya. Ya, bukankah hewan, tumbuhan, dan manusia semuanya memiliki tubuh yang bisa tua? Tapi dibandingkan itu semua… manusia adalah satu-satunya yang bisa berpikir rasional, bisa percaya, bisa meragu, dan bisa berbahasa.

“Tapi dalam beberapa hal, manusia tidak jauh lebih rendah dibandingkan hewan.” katanya.
“Apa maksud kamu? Kenapa kamu berkata begitu? Apa maksudmu manusia harus disetarakan dengan hewan?” tanyaku, tersinggung pada perkataannya.
Gadis itu menggeleng kepalanya lagi.

“Bukan begitu. Tapi manusia terkadang lupa mempertanyakan realitasnya. Tidak jauh lebih tinggi daripada hewan yang tidak bisa berpikir. Mereka mendapat kelebihan untuk berpikir dan meragu, tapi mereka hanya menerima, tanpa bertanya.” kata gadis itu.
Entah kenapa kata-kata itu menyinggung perasaanku. Menyinggungku karena… aku tidak ingin mengakui perasaan itu. tidak, bahkan untuk mempertanyakan dan mengkritisi apa yang kupercayai membuatku yakin bahwa aku tidak akan masuk surga. oh Tuhan, maafkan aku! Maafkan hambamu ini! Aku tidak ingin meragukanmu, tapi–!

“Jika kamu sekarang meminta pengampunan pada tuhan-mu, hentikan sekarang.” katanya.
Aku terbelalak. Perkataannya sangat membuatku tersinggung, seolah apa yang kulakukan adalah salah.
“Apa hakmu untuk menghentikanku?” aku bertanya balik.
“Karena aku ingin mengajak kamu ke surga. Bukankah kamu ingin bahagia?” tanyanya.
“Kamu… kamu bisa memperlihatkan surga?” tanyaku.

“Kalau tidak, aku tidak akan menunggumu.” jawabnya.
Kami berdiri. Lalu gadis itu menggenggam tanganku.

Detik kemudian aku baru tersadar. Realita yang kulihat berubah.
Mereka dimana-mana.
Di air.
Di tanah.
Di udara.
Melilit segala hal tanpa batas, termasuk aku.
Berat. Badanku… terasa… berat.

Rantai apa ini? Kenapa aku bisa terikat rantai ini?
Rantai ini begitu berat, tapi aku merasa sangat menunggu dicekik rantai ini. Ada kebahagiaan yang tidak bisa kumengerti. Aku ingin bebas, tapi aku tak mau. Kenapa… ya?

“Mari kita ke surga.” kata gadis itu. Dia lalu berjalan ke tepi atap, menuntun tubuhku yang dililit rantai. Ada rasa sesak yang begitu melegakan. Ada lilitan sakit, tapi menyenangkan. Aku… aku pasti gila. sebagian otakku mengatakan aku harusnya membebaskan diri dari ikatan rantai ini, tapi kenapa…? Kenapa aku justru merasa tergila-gila pada rantai ini?
Kami berjalan sampai ke tepi, melewati pagar pengaman. Kupikir dia akan melompat ke bawah dan membuat cerita ini berakhir sampai disini, tapi tidak, dari lapangan sekolah St. Lucas, ada rantai yang tak terhitung jumlahnya muncrat seperti air mancur, dan berderet, menciptakan tangga untuk kami.

Gadis itu lalu menaiki tangga rantai itu. Aku mengikutinya tanpa bertanya-tanya lagi. Otakku agak sulit berpikir.

*

Aku pernah mendengar bahwa ada tujuh lapis surga di dunia ini. Kira-kira, ke lapis manakah kita menuju? Pikirku.
Gadis itu tidak mengajakku berbicara. Kami menaiki susunan tangga itu tanpa kata. Tangga yang terbuat dari rantai itu tampak kokoh, walau kukira tidak bisa dipijak karena mereka adalah rantai.
Tubuhku terseret oleh rantai itu. Sakit, tapi ada perasaan bahagia. Aku bahagia walau diseret oleh rantai-ranti itu. Apakah aku gila? Tidak, aku tidak gila, justru inilah yang kuinginkan, aku tergila-gila oleh ikatan ini. Justru salahlah bila aku ingin terbebas darinya!

Kami lalu sampai di gerbang yang begitu megah. Ada ukiran-ukiran yang begitu mewah di gerbang itu, serupa dengan yang ada di lukisan-lukisan yang pernah kulihat tentang gerbang surga.
Ah tidak hanya aku sendiri yang berada di pintu gerbang surga, tapi ada orang lain disana, ah betapa bahagianya aku. Saudara-saudaraku! Kita akan masuk ke dalam surga! Kita akan memuji dan menyembahnya, siang dan malam! Oh kebahagiaan abadi! Aku akan datang! Tunggu aku!

*

Ah surga. Betapa bahagianya aku. Seperti yang ditulis oleh kitab suci, menyanyi siang dan malam, memuji-muji tuhan tanpa henti. Aku bahagia. Aku bahagia. Inilah kebahagiaan sejati. Inilah kebahagiaan sejati. Inilah surga.

Menyanyi.
Menyanyi.
Siang dan Malam.
Tanpa henti.
Tanpa…
Hen…
Ti…

*

Gadis itu tersenyum melihat dia, yang mencari kebahagiaan di Surga.
Gadis itu bukan berasal dari dunia ini, dia lebih agung dari pencipta dunia ini ataupun surga yang penuh kebahagiaan itu.

Gadis itu bertanya pada dirinya sendiri, sebegitu bahagiakah mereka menyanyi seperti itu? Memuji-muji dia, sang pencipta dunia materi ini.

Gadis itu tidak tahu bagaimana cara mendefinisikan pemandangan yang ia lihat. Orang itu hanya salah satu bagian dari seratus empat puluh empat ribu yang akan masuk ke surga. Seratus empat puluh empat ribu orang yang akan bahagia dengan menyanyi puji-pujian bagi dia, yang bertahta di surga ini.
Bagaimana dengan lainnya? Sangat disayangkan, pikir si gadis, mereka tidak mau melepaskan kebebasan berpikir mereka, sehingga mereka akan dibakar dalam siksaan kekal yang sudah ia siapkan bagi mereka yang menentang-nya. Bagi mereka yang tidak mau mengerti dan mengikuti satu arti kebahagiaan absolut-nya.

Gadis itu merasa lega, karena dia sudah memberikan gambaran surga itu padanya. Dia tidak salah ternyata, memang orang-orang tidak keberatan mendapatkan kebahagiaan seperti itu. Surga adalah tempat bagi mereka yang tidak keberatan kehilangan makna kebahagiaan lain atau kehilangan kebebasan berpikir.
Gadis itu lalu melemparkan dirinya ke ujung surga. Tubuhnya jatuh bebas. Rantai-rantai itu bergerak, melilit seluruh tubuhnya, tapi mereka langsung retak menjadi serpihan. Gadis itu tidak bisa diikat oleh rantai-rantai itu, karena pemilik rantai itu lebih rendah darinya.

Tak berapa lama kemudian dia sampai kembali ke atap sekolahnya. Tubuh orang yang tadi dia bawa ke surga itu tergeletak, tertidur. Saat ia terbangun nanti ia akan mengira ia baru bermimpi yang indah sekali. Bermimpi mendapatkan kebahagian sejati. Kehilangan kebebasan berpikir, mengetahui hanya satu arti kebahagiaan abadi.
Tapi mereka bahagia.
Gadis itu sesungguhnya tidak peduli pada nasib orang-orang lain yang terikat rantai itu. Bukankah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan? Bukankah mereka bahagia? Bukankah tidak masalah mereka lupa bahwa pernah ada kebahagiaan lain, karena mereka akhirnya, hanya tahu satu kebahagiaan itu?

Gadis itu merasa bersalah karena memiliki perasaan bahwa dia bisa menjadi pembela kebenaran dengan cara memberitahukan orang lain bahwa kebahagiaan tadi adalah palsu. Tapi tidak, kebahagiaan semu pun, bisa menjadi kebahagiaan sejati jika dijalani, jika orang yang bahagia itu menutup mata dan telinganya dari kebenaran lain.
Manusia lebih baik percaya pada apa yang mereka ingin percaya. Dia tidak berhak untuk menginterupsi rasa bahagia itu, bukan? Merekalah yang memutuskan untuk kehilangan kebebasan berpikir dan berkehendak, jadi tidak masalah, karena mereka pun berakhir… bahagia.

Dia lalu pergi dari atap, mencari orang lain yang sedang bertanya arti kebahagiaan lain. Dia ingin tahu, apakah masih ada orang lain di dunia ini yang ingin melihat rasa surga.

Ah, kebahagiaan absolut.

Mereka pun menyanyi.
Siang dan Malam
Terikat rantai.
Bahagia
Memuji dia siang dan malam

Seraya berkata:

Qadosh, Qadosh, Ribbono shel `Olam!
Kudus Kuduslah, Penguasa Dunia ini!

Popularity: 10% [?]

Tags:

Related posts

9 Comments so far
  1. michaeljubel October 7, 2008 3:37 am

    “Mereka mengatakan kalau aku bertanya, kalau aku kritis , aku tidak bisa masuk surga.” ->> I totally disagree. apa mereka sebodoh itu hingga menganggap agama dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya sebagai suatu hal yang gak patut dan tabu untuk dipertanyakan? come on.

    anyway, I’m so impressed with your interest to these stuffs, termasuk segala istilah2 ibrani yang kau tulis. gua sempat kebayang, apa 10-20 tahun lagi lu bakal jadi pendeta ya? HUAHAHAHAHAHAAHAHA..

  2. Calvin Michel Sidjaja October 7, 2008 8:21 am

    10-20 tahun lagi gw jadi pendeta??? parah lu… itu job yang akan gw ambil kalau gw udah ga punya harga diri lagi, atau semua karir di dunia ini hilang. hahahahah

    gw lagi riset buat novel ketiga, makanya gw punya banyak data soal gini2a :P

  3. Catherine October 8, 2008 2:42 pm

    Hahaha..Koko2 nanti 10 taun lagi lu bnrn jd pendeta bs malu lu ama omongan lu! lagi sapa yg tau masa dpn lu nanti, ya kan??
    Eh, sbnrnya kan lu bersikap skeptis dan penuh keraguan bgt kan?? :-?Knapa ga coba selami teologia kristen lbh dlm? mungkin dg kuliah teologia ato penelitian ttg agama kristen?? ;)
    Trus klo lu jd pendeta gw DUKUNG..!!hahahaha.. :))

  4. Calvin Michel Sidjaja October 8, 2008 2:50 pm

    @catherine
    segala pengetahuan dan riset gw ujung2nya buat novel kok, gw ga mau kerja gratis :P

  5. uli.moimooi October 16, 2008 5:46 pm

    hi mas calvin..
    ^again,,what should i call u eniwei..^

    aq lg ni..
    wah,baca postinganmu mang bneran mncerahkan pikiran deh..hehe..

    oia,,cmment tmn-u tu..q jd ikut pnasaran..
    kira2 mgkn g y bz ni mas jd pndeta?
    hehe,,

    oia,,
    can i have your email address eniwei?

  6. Calvin Michel Sidjaja October 16, 2008 5:48 pm

    jadi pendeta??? no way! orang agnostik jadi pendeta… itu kaya disuruh ngebunuh anak sendiri deh ;D

    email gw? atau ym? ada kok di kanan atas.

  7. kim November 2, 2008 6:57 pm

    hmm ada kata2 yang saya dengar sebelumnya, begini..

    small faith can bring u to heaven,
    but great faith can bring heaven to u.

    manusia (mankind) punya kapasitas tak terbatas, tp tubuh ragawinya yg terbatas..,
    just set free ur heart and mind, then u’ll see everything clearly, universal :)

    salam,
    kim

  8. Calvin Michel Sidjaja November 16, 2008 6:31 pm

    @kim
    hahaha, gw suka kata2 loe. Tapi ignorance is bliss, bagi yang tidak mau tahu, lebih tidak usah tahu :D

  9. kim November 16, 2008 6:40 pm

    yup, sometimes.. ignorant is a bliss, terkadang ketidaktahuanmu menjadi berkah ^^

    terkadang tidak tahu malah lebih bahagia,
    because beyond the great power, lies greater responsibilities
    eh bener ga ya tuisannya :p

    yah initnya, sama aja sih ama kata2 lu vyn :p
    kalo ga mau tahu, lbh baik ga usah tahu ^^

    salam,
    kim

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes