Google
 

Bazaar Emisi Karbon

Calvin Michel Sidjaja on December 6th, 2007

Seperti yang kita ketahui, saat ini di Bali sedang ada konferensi perubahan iklim. Banyak pihak yang skeptis dengan pertemuan ini, walau seperti yang ditulis verdinand, setidaknya konferensi ini potensial bisa meraup devisa sebesar $36,7 juta/ Rp 345 miliar bagi Indonesia.

Kebetulan tadi saya baru saja selesai mata kuliah mengenai NGO (Non-Governmental Organization) and Civil Society Empowerment, disela-sela kuliah, Mas Bob yang tadi bad mood memberikan trivia menarik mengenai mekanisme jual-beli karbon.

Tingkat industrialisasi negara-negara di dunia ini berbeda-beda, ada yang tingkat pertubumbuhannya tinggi dan menghasilkan emisi karbon yang luar biasa besar, namun ada pula yang rendah sehingga tidak terlalu keberatan untuk meratifikasi Protokol Kyoto.

Pada dasarnya, dibawah Protokol Kyoto, tiap negara memiliki kuota-kuota dalam batas tertentu untuk memproduksi emisi karbon. Karena alasan inilah, Amerika Serikat, produsen emisi karbon terbesar di dunia menolak meratifikasi perjanjian ini.

Saat ini, topik jual-beli kuota emisi karbon menjadi topik cukup menghangat karena dibawah mekanisme ini, suatu negara bisa menjual kuota emisi karbon-nya ke negara lain. Dengan demikian, total emisi karbon yang diharapkan bisa tetap minimal dan ekonomi terganggu. Selain itu, akan dibentuk juga mekanisme pajak emisi karbon, orang-orang yang masih menggunakan alat yang memproduksi emisi karbon akan mendapat pajak tambahan.

Apa ada yang salah dengan logika ini? Saya sendiri sebetulnya agak merasa aneh dengan mekanisme ini. Mungkin saya akan membaca berita-berita soal jual-beli emisi karbon nanti.

Referensi:
Kompas, Senin 29 Oktober 2007: Jangan Terjebak Jual Beli
Emissions trading (Wikipedia)

Popularity: 8% [?]

Tags: , ,

Related posts

2 Responses to “Bazaar Emisi Karbon”

  1. mmhh.. sebenarnya cdm dan redd ini memang masih diperdebatkan
    jangan salah Calvin, di Bali banyak banget yang protes dengan mekanisme CDM
    bahkan Civil Society Forum punya hajatan untuk menandingi UNFCCC yang dianggap sebagai perusak iklim melalui CDM. mereka tuh ekstrim. jadi nggak pengen lingkungan menjadi isu bisnis. Lingkungan ya lingkungan. Jangan dibisniskan. Tau nggak Emil Salim aja, pelopor REDD, disorakin komprador ama orang CSF.
    Jadi, perdebatan tentang CDM dan REDD memang semakin menghangat.
    Kita tunggu aja apakah CDM dan REDD dapat terealisasi.

  2. gimana ngga aneh bos.. Hutan kita mau dipetak2in trus dikasih harga murah perhektar nya buat nebus dosa Negara-negara besar.. penghasil Karbon… dah gitu nanti hutan2 kita ada namanya tuch, dibiayai dari program CTM Negara A, Negara B dst.

    Trus loe pernah kepikir ngga ? gimana rakyat kita yang sehari2nya hidup dari hutan komunal..kan masih banyak banget orang indonesia yang hidupnya sangat tergantung dari hutan sekitar mereka. trus mereka nanti dilarang masuk hutan karena itu hutan dari biaya Negara A.

    gile aja …. kenapa ngga mereka yang harus nanemin hutan mereka juga. jgan terus2an industrialisasi. trus kita mau gimana ? apa kita ngga boleh maju…? g sech setuju banget sama temen yg ada d CSF.. tapi kayanya sech pasti di omongin terus tuh. carbon trade mechanism… loe masih inget ngga sistem penebosan dosa jaman abad pertengahan indulgencia kalo ngga salah… apa bedanya cba dngn CTM??? hehehe…

Trackbacks/Pingbacks

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>