Kawasan Asia Timur memiliki tiga negara yang menjadi kekuatan ekonomi berpengaruh di dunia, yakni China, Korea Selatan, dan Jepang. Dalam hubungan ekonomi, ketiga negara memiliki interdependensi yang sangat tinggi. Jepang dan Korea Selatan menggunakan China sebagai basis produksi mikrokonduktor mereka, China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Jepang.
Namun salah satu yang paling menarik dari pola hubungan antar ketiga
negara ini adalah hubungan politik yang cenderung konfliktual
dibandingkan kerjasama. Hal ini bisa kita lihat dari politik luar negeri Shinzo Abe yang masih dipengaruhi oleh aspek sejarah, khususnya mengenai imperialisme Jepang pada perang dunia ke-II. Abe dikenal sebagai seorang ultra nasionalis dan berusaha membuat Jepang dapat bangkit kembali sebagai negara normal, dalam konteks ini, memiliki militer normal.
China sendiri selama ini selalu menuntut Jepang untuk meminta maaf dan mengakui bahwa ada keterlibatan pemerintah Jepang dalam pengadaan rumah-rumah bordil dan budak seks pada saat negara itu menjajah China. Jepang sejauh ini belum mau mengakui adanya keterlibatan pemerintah dengan budak seks (yang dieufimismekan sebagai Jugun Ianfu (?????)).
China memiliki kanji ??. Kanji ini berarti adalah kerajaan tengah. Dalam prinsip kuno, China adalah negara yang superior dan menjadi pusat dunia, dan harus terus menjadi kerajaan utama Asia timur. Sejarawan juga membentuk istilah Sinosphere, yakni wilayah yang dipengaruhi
oleh budaya China, misalnya adalah Korea, Jepang, Singapura dan Vietnam.
Jika melihat sejarah China sebagai bangsa dengan peradaban yang tinggi dan sinosentris, dapat dimengerti betapa terhinanya China karena Jepang merupakan negara yang bisa dikatakan “lebih inferior” dari China karena alasan kultural dan aspek historis.
Jepang mengadopsi sistem tulisan dari China, dan secara historis, Jepang banyak belajar dan mempelajari teknologinya dari China. Pada saat Jepang menginvasi China pada abad ke-20, bisa dibayangkan betapa terlukanya harga diri bangsa China. Jepang, sebuah negara yang ratusan tahun menjadi periferi menjadi lebih modern dari negara pusatnya.
Aspek sejarah inilah yang menjadi faktor yang mempengaruhi kerjasama politik di Asia Timur. Pada kasus Jepang, terdapat percampuran antara inferiority complex dan superiority complex pada pengaruh China yang meningkat kembali. Hal yang sama juga terjadi di China.
Kedepannya, mungkin tidak ada kans bagi China, Jepang, dan Korea Selatan untuk bekerja sama lebih erat lagi selama aspek historis, mentalitas, harga diri yang tinggi di antara mereka masih memainkan peranan dalam kerjasama wilayah. Inilah yang paling menarik dari kajian Asia Timur. Tiga kekuatan ekonomi terbesar di dunia memiliki ketergantungan pada ASEAN untuk mengfasilitasi kerjasama mereka. Hal inilah yang membuat ASEAN tetap relevan untuk menjaga stabilitas Asia Timur secara keseluruhan. Walau dikritik lambat dan birokratis, tapi nyatanya ASEAN sudah berhasil mencegah adanya perang besar terjadi semenjak institusi tersebut didirikan.
Popularity: 18% [?]
Tags: China, East Asia, Japan, South Korea







PERTAMAX!
Politik bad, ekonomi good. Politik very well, economy poor.
Ini memang tradeoff yang sering kali menyakitkan.
Ingin punya ekonomi bagus dan politik stabil sangat susah didapat.
COba lihat Singapura,
Makmur, sejahtera, negaranya apik dan bersih, pokoknya adem deh. Tapi… parpol maksimum satu, demonstrasi dilarang (pake dipenjara segala), nggak ada pemilihan terbuka dan demokratis.
Jadi, kembali pada tulisan Calvin, fenomena negara-negara besar di Asia Timur ini memang menarik untuk dipelajari. Secara ekonomi bersifat interdependen tapi kepala negaranya saling berantem.
Tergantung pada kita sekarang, mau yang mana?
Dijajah dan menjajah.
Kalau dipikir2, kita sendiri dijajah selama 300 tahun tapi kita tidak resistant terhadap Belanda apabila ingin mengadakan kerjasama bilateral. Tapi mengapa China, Korea Selatan, dan Jepang resist each other? Itu karena Harga diri. Hanya karena dijajah oleh negara yg inferior menyebabkan kerjasama antarnegara tersebut terhambat. Sebuah paham, yang menurut saya, masih kekanak-kanakan. Apa harga diri masih patut dipertahankan di era seperti ini?
y gitu d Kawasan tersebut selalu dipenuhi ketidakjelasan. berasal dari faktor sejarah yang telah disebutkan diatas maka kawasan cina (bukan China) tersebut selalu mempunyai dimensi permusuhan sejaklama dan pada hingga hari ini mereka hidup tidak saling percaya satusama lain (dipenuhi kehat-hatian) jadi dalam menanggapi perubahan situasi keamanan jadi berbeda-beda, ga pernah sama ya walaupun mereka (dipublikasikan) mempunyai hubungan perdagangan lah, ini lah itulah, auah kerjasama apaan lagi..
belum lagi tuntutan Jepang terhadap China, Korea Utara mengenai Transparansi masalah militer. padahal kan “adalah negara yang bodoh jika kekuatan militernya dibuka terang-terangan, musuh akan mudah tau dimana dia mempunyai titik kelemahan.”
maap kalo salah.. komen doang, dikid..
Kawasan Asia Timur atau yang dikenal dengan far east atau timur jauh merupakan kawasan yang rawan konflik antar negara (inter state conflict) yang mendiami kawasan asia timur, hal ini dapat terlihat dari interaksi yang sering kali mamanas jika salah satu dari negara tersebut menonjolkan foreign politic nya, hal tersebut mengambarkan suatu keadaan yang suatu saat akan meledak seketika jika salah satu dari negara tersebut mulai menciptakan suatu tindakan yang mengancam keamanan negara lain
Weh Asia Timur khehehhe … itu enaknya klo diliat pake Regional Security Complex tuch….masalahnya terlalu ribet klo di deketin secara satu dimensi aja…tp menurut g ASTIM itu masih kaya perang dingin yg ngga kelar2 padahal orang laiin dah ngeliat dunia pake kacamata post cold war… ternyata di belahan dunia itu coldwar masih berlanjut… “kasihan yah kita…” jd masih kena imbasnya terus heaheaih….
Tp sebenernya klo kita liat secara ekonomi sech itu mah kaya tipuan doank.. Soalnya secara ekonomi emang interdependensi mereka sangat tinggi satu samalain. Yah bukitnya Taiwan-China yg selama ini terus anget2an ternyata ada U dibalik B… tingkat arus modalnya tinggi dari dulu !!. Gimane mau perang klo investnya Taiwan banyak di China..?
begitu juga dengan China-Jepang, China-Korsel dst-dst. tp yang selalu jd anomali yah itu korea utara. Negara yg unik dan seringkali buat negara-negara kawasan kebakaran jenggot dengan kelakuannya yg aneh2.
Tapi tetep g salut sama cara Multilateralisme nya China.. terbukti sangat tangguh dalam mempengaruhi negara-negara lain di kawasan….(heheh soalnya dia bilang multilateral pada hal satu2 didatengin alias bilateral terus digencet dech pas lg rame2 hehehhe)
@roby
gw tadinya juga mau pakai regional security complex nih, tapi dosen gw bilang kalau gw mau ngebahas satu dimensi doank, pembahasan gw akan terlalu over-simplified. gw akhirnya akan pake teori complex interdependence.
hueekss complex interdependence… yah klo pake itu beberarti loe musti lebih liat ke sektor ekonominya tanpa mengesampingkan peran sektor security dikawasan yaks. trus liatin hubungan ketergantungan yg terjadi antara state & society gitu. yah mirip2 kaya comment g di atas dikit sech sebenernya. info lebih lanjut yah tanya aja sama Mbah Nye & Keohane dah mendingan hahahahah……
@roby
Makanya gw lagi hunting buku ini, moga2 ngga langka deh, soalnya ga mau beli buku impor (jalan terakhir paling ngopi).
btw roby udah skripsi? kok kayanya expert banget yah? anak-anak hi unpar kebanyakan lemah pada teori, makanya keteteran nbyari teori pas skripsi… maklum deh, pas kami dapat mata kuliah “teori politik” di semester 4, kami belajar mengenai cara menggunakan Short term memory, bukannya belajar substansi.