Beberapa minggu belakangan berita Myanmar memenuhi headline media nusantara, hal ini dikarenakan perkembangan demonstrasi Myanmar.
Demonstrasi dipicu oleh kenaikan harga BBM yang mencapai lima kali lipat oleh junta militer yang dipimpin oleh Than Shwe. Hal ini memicu aksi demonstrasi damai yang dipimpin oleh biksu yang berjumlah sekitar 10,000 orang. Aksi ini lalu diikuti rakyat dan berkembang menjadi tragedi yang banyak dijumpai negara-negara dengan pemerintahan militer. Junta mulai menembaki demonstran, dan bahkan menewaskan wartawan Jepang bernama Kenji Nagai. Jumlah korban diperkirakan sekitar 100 orang atau lebih.
ASEAN harusnya bisa berbuat banyak, tapi dengan paham non-interferensi yang dimiliki ASEAN, kita tidak bisa berharap banyak. Satu-satunya statement yang dapat ditemukan adalah pernyataan dari George Yeo, Menteri Luar Negeri Singapura yang saat ini juga menjabat sebagai chairman ASEAN pada sesi ke-62 Majelis Umum PBB di New York, 27 September 2007. Pernyataan Yeo sama sekali tidak memberikan kutukan atau tekanan pada Myanmar, hanya sebatas imbuan moral bahwa Myanmar harus terus mengupayakan jalan damai dan mencegah penggunaan senjata pada demonstran.
Namun kita semua tahu, nilai demokrasi, hak asasi manusia bukanlah isu penting di ASEAN, pernyataan ini pun mungkin tidak lebih dari sekedar lip service pada media agar ASEAN tidak terlalu dicerca. Jika ASEAN memang berniat menghentikan konflik, harusnya tiap-tiap negara ASEAN mengutuk perbuatan Junta militer. Namun mengingat negara-negara ASEAN sendiri tidak benar-benar demokratis (Indonesia pernah bermasalah pada tahun 1998 & 1965, Thailand dikudeta, dan Singapura adalah negara otoriter), kita tidak bisa mengharapkan lebih. Ban Ki Moon juga pada 28/09/07 meminta pada SBY secara personal untuk ikut mengatasi masalah Myanmar.
Pemerintah Myanmar, dengan luar biasa membuat berita balasan bahwa para pendeta masuk rumah penduduk dengan paksa, dan memaksa mereka ikut demonstrasi, sehingga mereka bisa ditindak oleh aparat keamanan. Di saat yang sama, beberapa kompani dari China meneken kerjasama dengan Myanmmar. (Berita selengkapnya bisa dilihat di situs resmi Myanmar yang sayangnya, memakai java script sehingga beritanya tidak bisa di hyperlink)
Di dewan keamanan sendiri, isu Myanmar belum mendapat prioritas tinggi untuk dibicarakan, dan perkembangan terakhir baru sampai 19 September 2007. Pada 12 Januari 2007, Amerika mengsponsori sebuah draft untuk merespond situasi di Myanmmar, namun diveto oleh Rusia dan China karena dianggap tidak menganggu keamanan Internasional.
Popularity: 11% [?]
Tags: ASEAN, Human Rights, Military, Myanmar, United Nations







Wah lumayan seger nih postingannya!
Kebetulan calon skripsi gw temanya tentang Myanmar.
Gw setuju dengan apa yang dikatakan Calvin mengenai sikap ASEAN yang tidak terlalu memperdulikan isu Burma. Bahkan buat gw, ASEAN justru “mendukung” junta militer Myanmar. Kok “mendukung”? Hampir semua negara-negara di ASEAN memiliki kepentingan ekonomi cukup besar di Burma. Pertamina ada di Burma bos! Cukong-sukong besarnya itu Singapura, Thailand dan Laos.
Jadi memang tidak ada yang diharapkan terlalu banyak dari ASEAN. Apalagi CIna! Negara yang otoriter mampus!
Yang dapat diharapkan adalah dari internal Myanmar dan negara-negara yang punya kepentingan perjuangan demokrasi di Myanmar seperti Uni Eropa dan AS. Investment ban dari Uni Eropa dan AS sudah cukup membuktikan kepedulian nyata untuk memperjuangkan demokrasi.
Ayo penduduk Burma perjuangkan hakmu!
Burma people will be free.
@verdinand
wah lumayan menarik tuh infonya, tapi menyedihkan ya? kompas mengatakan Myanmar bahkan tertinggal dua dekade dibandingkan Indonesia. Mikir apa sih junta militer itu?
Pengakuan kita yang tak boleh dilupakan adalah fakta bahwa kita mengakui nama negara “Myanmar” ketimbang “Burma”
Kita lihat saja nanti apakah China dan Rusia akan mengveto draft resolusi untuk Myanmar (seandainya ada).
gue pake Burma deh..
menurut bung Calvin sendiri ini arahnya akan ke mana? karena demontrasi yang berujung pada penghilangan nyawa rakyat bukan barang baru di sana…sudah pernah kejadian tahun 88 ya kalo nggak salah, dan itu nggak menjatuhkan pemerintahan junta…
dan Than Shwe bukan Soeharto, Our Smiling General nggak akan mindahin pusat pemerintahan cuma gara-gara nasehat paranormal.. rasionalitas aktor di sana dipertanyakan…jadi apakah jatuhnya lebih banyak korban akan mengusik si junta?
danger! danger!
saya tidak berani menebak, tampaknya sebentar lagi demonstrasi ini akan berakhir menyedihkan bagi pihak pro-perdamaian seperti kita, tentu saja karena junta akan menggunakan kekuatan militernya untuk membungkam rakyat.
Mungkin kita harus menunggu ekonomi myanmar kolaps sebelum people’s power bisa kembali menggulingkan pemerintahan, yang tentu saja sangat kecil kemungkinan akan terjadi, karena banyak negara2 besar memiliki kepentingan ekonomi disana. Isu ham? Biarkan saja berlalu.
Using
menurut anda apakah Junta Militer ini akan segera tumbang seperti tumbangnya rezim Soeharto dengan adanya krisis ekonomi? kebetulan saya ingin menulis skripsi tentang ini mengenai upaya internasinal menangani masalah Myanmar, yang baru saja mulai melakukan tindakan yang menururt saya sudah terlambat? tekanan yang dilakukan oleh PBB khususnya belum mendapatkan tindakan berarti dari pemerintahan Junta sendiri.
Using
@dyah
menurut saya belum bisa, kalau dilihat dari perkembangan terakhir, saya pesimis rezim junta akan segera tumbang. Masalahnya myanmar tidak terlalu bergantung pada institusi keuangan internasional (seperti Indonesia pada IMF dan World Bank) sehingga akan sulit menekan pemerintahan militer myanmar.
bisa dikatakan, masa depan myanmar tergantung dari kebijakan china, karena negara tersebut memiliki pengaruh terbesar pada Myanmar.