ASEAN mungkin terdengar familiar di telinga kita, khususnya karena institusi regional ini memainkan peranan penting dalam politik luar negeri Indonesia. Secara ekonomi, ASEAN sesungguhnya tidak terlalu penting bagi Indonesia, hal ini disebabkan karena negara-negara ASEAN, kecuali Singapura, memiliki komoditas yang sama, yakni bahan-bahan pangan.
Saat ini, kita boleh cukup bergembira karena AFTA (Asean Free Trade Area) sudah mulai berhasil diimplementasikan, terlepas betapa banyaknya barang yang masuk ke sensitive list.
Dari seluruh negara yang ada, hanya Singapura yang tampak sudah siap dengan AFTA, negara ini sudah menurunkan hambatan tarif sampai 0% pada semenjak 1998.
Di dalam teori regionalisme, terdapat lima tahap dalam pembentukan proses menuju integrasi, yakni:
- Sistem Tarif Preferensial. Negara-negara menyepakati besaran tingkat tarif impor.
- Free Trade Area. Negara-negara secara perlahan menghapus hambatan tarif dan non-tarif (seperti kuota)
- Custom Union. Tahap dimana Free Trade Area dibentuk dan memiliki tarif eksternal yang sama.
- Common Market. Dimana negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Ekonomi Internasional memiliki koordinasi dalam kebijakan moneter dan pajak
- Integrasi. Negara-negara memiliki kebijakan ekonomi yang seragam. Uni Eropa telah melakukan hal ini.
Saat ini ASEAN berada pada tahap paling pertama, dan pada tahun 2012, diharapkan akan mengimplementasikan ASEAN Free Trade Area. Namun pertanyaannya, sanggupkah? Seperti yang dikatakan sebelumnya, komoditas ekspor antar anggota ASEAN relatif sama, sehingga kompetisi dan perang dagang yang terjadi juga cukup luar biasa. Konsumen mungkin untung, tapi bagaimana dengan produsen? Apakah perlu, atas nama pasar bebas, kita harus membiarkan petani-petani Indonesia harus digilas oleh produk-produk impor, sementara kesejahteraan mereka pun masih diragukan?
Terlepas dari faktor-faktor tersebut, mungkin ada perlunya kita memasang visi jelas kedepannya, yakni untuk membuat pasar ASEAN lebih penting, setidaknya lebih penting dari pasar Jepang.
Salah satu isuyang sering terlupakan dalam wacana ASEAN adalah pembentukan mata uang umum bersama. Isu ini mungkin merupakan isu paling jarang diliput, bahkan pencarian di kompas.com pun hanya menemukan satu artikel.
Shingo Watanabe dan Masanobu Ogura, analis ekonomi Jepang menulis masalah ini di tulisan How Far Apart Are Two ACUs from Each Other?Asian Currency Unit and Asian Currency Union. Pada dasarnya, proses menuju satu mata uang asing masih jauh dari harapan, khususnya karena kekuatan mata uang negara-negara ASEAN masih memiliki perbedaan kekuatan, sehingga koordinasi kebijakan moneter tidak dapat dilakukan.
Memang masih lama, tapi mari kita berharap kedepannya, kesenjangan di antara sesama negara anggota ASEAN makin sedikit, sehingga kita bisa bermimpi memiliki satu kawasan ekonomi yang terintegrasi.
Popularity: 12% [?]
Tags: AFTA, ASEAN, Economy















Wah, bakal asyik juga kalau mata uang ASEAN bisa sama. Nilai tukarnya bakal lebih kuat dibandingkan matauang negara lain.
Salam.
apa ngara Qt Indonesia yg t’cinta dg sgala keadaannya ud siap bt nrima mata uang bersama..
truz klu ada mata uang bersama…brarti Bank Indonesia bakalan gak ada donk????truz bgaimana dg nasib sgenap pegawainya????
bgmn tanggapan sawdara…?????
jika terjadi integrasi ekonomi, dengan hal ini, sudah mencapai tahap memakai mata uang bersama, tugas bank sentral tiap negara-negara adalah menjaga agar melakukan kebijakan yang serupa dengan negara-negara sesama pemakai mata uang tersebut. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi fluktuasi mata uang yang berbeda antara satu negara-negara lainnya. Saya sendiri belum terlalu menguasai logikanya, tapi mudah-mudahan itu bisa memberikan gambaran umum.
ASEAN ingin seperti UE, semoga integrasi ini akan terwujud (walaupun masih lama banget)
g ada salahnya membuat FTA di ASEAN,
tapi ASEAN beda dengan UE,
siapkah? mampukah?
Qt buktikan di 2012
Hallo Calvin!
Saya, verdinand, mahasiswa hi ui, senang (akhirnya!) bisa bertemu seorang mahasiswa hi di dunia blog.
In my opinion, as a realist (Sure!) , ASEAN Community 2015 masih jauuh banget. Gw sendiri berani bertaruh nanti pada tahun 2015 pasti dipostpone lagi.. ya.. biasalah orang-orang deplu cari sensasi mempercepat asean community.
Ge setuju dengan argumen Calvin mengenai faktor sulitnya terbentuk ASEAN Community. But, kita dukung ajalah…meskipun kita tahu itu sulit dan lama, kita biarin aja orang sekre asean dan deplu buat2 program mensukseskan ide mereka
Anyway, I’m proud my writing published here
Hope you can join in opinihi.blogspot.com!
See u!
Verdinand-yang merasakesusahanmencarianakhipunyablog!
@verdinand
kita optimis saja deh. bukankah pertemuan terakhir berhasil memasukkan kesepakatan isu ham dalam piagam asean (salut saya dengan pak Hassan Wirajuda). menurut saya saat ini asean sedang dalam transformasi, pasti akan ada waktunya dimana negara2 akan mulai rela mengurangi kedaulatannya demi integrasi lebih jauh. Saya harap kita sebagai orang2 bawah juga akan diajak partisipasi dalam asean.