
Mungkin anda selama ini banyak yang bertanya-tanya, kok dari seluruh nama di dunia, ada blog kasih nama “Republik Babi”? Sebenarnya nama ini saya ambil dari cerpen yang saya buat pada tahun 2005 dulu, dan ini menjadi cerpen terfavorit saya, sampai-sampai mau saya jadikan trademark sendiri :p.
Berhubung saya sedang bingung� topik menarik apa yang lebih baik ditulis, saya memposting cerpen ini saja deh. Selamat membaca!
Republik Babi
Kamu mungkin tidak percaya jika kukatakan hal ini, tapi sebenarnya, aku tinggal di sebuah negara aneh, kenapa kukatakan aneh? Gampang sekali, aku tinggal di sebuah negeri dimana para rakyatnya diperintah oleh babi. Aneh sekali bukan? Aku sendiri juga bingung kenapa hal seperti itu terjadi.
Berkunjunglah ke negara kami, jika tidak percaya. Selamat datang ke negara kami, Republik Babi.
*
Hari secerah biasanya saat aku membaca koran pagi, melihat kampanye-kampanye yang dilakukan oleh beberapa babi yang diliput di surat kabar. Mataku sibuk membaca koran dengan seksama, mencari foto babi yang diberitakan artikel itu. Tak ada, pikirku dengan bingung. Aneh, tak ada foto babi di koran ini.
Setiap beberapa tahun sekali, di negara kami diadakan pemilu untuk memilih Dewan Perwakilan Manusia. Calon-calon wakil kami di kursi legislatif itu sudah mulai melakukan kampanye. Mereka memasang foto mereka diberbagai tempat, fotonya manusia tentu saja. Ada yang memasang foto sambil tersenyum lebar, beberapa lagi memasang slogan yang menekankan mereka orang yang patut mendapat kursi di legislatif.
Beberapa tahun yang lalu, babi super rakus yang memimpin republik kami selama 32 tahun baru saja dijatuhkan oleh rakyat, yang tentu saja manusia. Kami semua, penduduk Republik tentu saja sangat senang, karena akhirnya pemerintahan kami akhirnya akan diperintah oleh seorang manusia, sesuai dengan paham demokrasi, dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.
Tapi sayang, kami semua tidak tahu, babi di negeri kami berbeda dengan babi-babi yang tinggal di negeri seberang. Tentu saja, kamu pasti bingung jika melihat babi mengenakan jas bukan? Tapi begitulah babi di negara kami, mereka bisa� menyamar menjadi manusia, dan akhirnya dipilih menjadi wakil kami di legislatif karena mereka menggunakan ijasah-ijasah palsu dan sertifikat resmi yang menyatakan mereka seratus persen manusia tulen, bukan babi.
Tentu saja kami, manusia,� kesal karena kami sudah salah memilih wakil kami. Babi adalah babi, bukan manusia. Para babi itu sangat pintar bersandiwara, mereka berpura-pura memperjuangkan hak kami, bahkan pernah, mereka berkelahi pada saat sidang, dan akhirnya mereka memperlihatkan kebabian mereka yang harusnya tak perlu disembunyikan lagi.
Banyak opini bermunculan di media massa bahwa Dewan Perwakilan Manusia sudah tidak ada manusianya. Aku setuju hal tersebut, karena mulai bermunculan isu bahwa Dewan Perwakilan Manusia akan mengganti nama tersebut karena tidak representatif dan tidak menggambarkan kondisi Dewan yang sebenarnya.
Akhirnya beberapa hari kemudian, keputusan dikeluarkan.
Nama yang bagus sekali, pikirku sambil membaca koran.
Seluruh babi di dewan setuju agar nama Dewan Perwakilan Manusia diubah menjadi Dewan Babi. Para babi akhirnya berpesta, mereka merasa senang karena akhirnya publik tahu. Mereka babi.
*
Kamu pasti akan tertawa jika melihat negeri kami yang terbagi menjadi dua kelas, babi, dan manusia. Tak bisa kubayangkan muka Marx jika dia melihat negara kami, mungkin dia akan terpingkal-pingkal karena melihat betapa anehnya republik ini, betapa tidak, Babi memerintah manusia!
Nama negara kami memakai embel-embel Republik, tapi mulai banyak opini di surat kabar yang mengusulkan bahwa lebih baik negara kami namanya diganti saja menjadi Republik Babi. Toh walau lebih banyak manusia tinggal di negeri ini, babilah yang berkuasa, bukannya manusia yang memilihnya. Sudah tidak aneh jika melakukan hal tersebut. Karena perubahan nama yang tepat akan memberikan gambaran seperti apa isi suatu negara, seperti pada saat Dewan kami diubah menjadi Dewan Babi.
Dewan Babi bersikap positif akan usulan ini. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa usulan tersebut sangat mencerminkan gambaraan riil Republik dan situasi politik negera ini. Akhirnya para babi itu bisa tertawa puas, nama negara resmi kami berubah menjadi Republik Babi.
Prinsip negara kami akhirnya berubah. Dari rakyat, oleh babi, untuk babi.
*
Hari ini aku kaget sekali, aku membaca berita bahwa pemerintah kami, yang diurus lebih banyak oleh babi ketimbang manusia, memutuskan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak, yang akan membuat efek domino sangat buruk di Republik Babi, dimana lebih banyak manusia miskin dibandingkan Dewan Babi yang kaya.
Barang-barang naik, seluruh subsidi yang diberikan pemerintah kepada kami dihilangkan. Aku menerima keputusan itu dengan lapang dada, aku tahu ini akan terjadi, apalagi semenjak mengetahui bahwa Republik Babi sudah tidak menjadi menjadi negara exportir minyak mentah, cadangan minyak bumi kami yang makin menipis dan ketidaksanggupan kami memproduksi target perharinya membuat kami terpaksa hanya bisa mengelus dada, menunggu waktu sebelum cadangan minyak bumi kami benar-benar habis.
Terkadang aku bingung, mungkinkah minyak-minyak kami diminum babi yang berada di perusahaan penyulingan tersebut? Toh sudah rahasia umum bahwa pekerja di perusahaan tersebut juga sama saja seperti anggota legislatif kami. Babi.
Tak ada yang bisa kulakukan, pikirku dengan lesu sambil memandangi jendela yang memperlihatkan para manusia antri berbondong-bondong untuk mengambil dana kompensasi yang dikeluarkan pemerintah karena kenaikan bahan bakar minyak.
Pemberian insentif itu merupakan langkah pemerintah agar meredam protes yang bergejolak dari manusia yang mulai membenci Dewan Babi yang katanya, jabatan terhormat. Percayalah, Aku tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar bahwa jabatan itu membuat seseorang terhormat. Sejak kapan Babi punya rasa hormat.
Dewan Babi yang tampaknya belum puas menghisap uang kami, lalu mengusulkan agar diberi tunjangan hari raya sebesar seratus kali lipat dana kompensasi yang diterima oleh para manusia dan kenaikan gaji sebesar lima ratus kali lipat. Tentu saja para manusia yang untungnya, masih bersikap kritis terhadap para babi itu menolak usul tersebut, yang sayangnya, ditolak mentah-mentah oleh Dewan Babi. Lebih parah lagi, Dewan Babi pun mengusulkan Rancangan UU pajak yang isinya, dapat mengefektifkan penghisapan uang para manusia pelaku bisnis di negara ini. Dewan Babi sangat senang dan menyambut Rancangan UU tersebut segera menjadi UU, karena dengan begitu, mereka bisa memakan uang lebih banyak lagi.
Astaga! Dasar Babi! Belum puaskah kalian memakan uang-uang yang merupakan hasil jerih payah kami? Kasihan manusia di negeri ini, benar-benar tidak beres, bagaimana mungkin negeri ini diperintah oleh babi? Aku bersumpah dalam hati, agar saat aku dipilih menjadi anggota legislatif suatu hari nanti, aku akan menjadi satu-satunya manusia yang memperjuangkan manusia yang memilihku.
*
Sudah berapa tahun berlalu semenjak Nama negara kami diubah menjadi Republik Babi? Aku tidak ingat, tapi yang pasti, akhirnya aku berhasil menjadi satu-satunya manusia yang dipilih menjadi anggota Dewan Babi.
Lalu aku berjalan dengan tegap ke ruang Sidang, memakai setelan jas rapi yang menggambarkan bahwa aku adalah manusia. Betapa kagetnya aku saat melihat ruang sidang, Dewan Babi itu… memiliki wujud seperti diriku! Manusia! Astaga, bagaimanakah aku bisa membedakan yang babi, dan yang manusia? Pikirku.
Pantas saja mereka terpilih kembali menjadi anggota Dewan Babi, mereka memakai wujud manusia agar bisa dipilih! Pupuslah harapanku agar menggganti nama Dewan Babi kembali menjadi Dewan Perwakilan Manusia! Terlalu banyak babi disini, kuyakin� babi tidak mau dipanggil manusia, mereka akan tersinggung.
Aku duduk di salah satu kursi, berbicara dengan Babi yang berada disebelahku, dia tampak sedang menelpon dengan sebuah telepon genggam. Mimik mukanya yang makin meyakinkanku bahwa dia Babi membuatku ingin bertanya, �maaf anda sedang apa??Etanyaku dengan sopan.
Lalu Babi itu memandangku dengan ketus. �Saya sedang mengurus pesta, hidangannya Babi. Jangan ikut campur!?Ejawabnya. Sekali lagi aku terpana. Babi macam apakah yang duduk didewan babi ini? Bahkan mereka bisa memakan satu sama lain! Aku menggeleng-geleng kepalaku dengan pening. Pantaslah para manusia marah karena� Babi rakus sekali. Mereka tidak hanya makan uang, dan minum minyak. Mereka juga bisa memakan sesama!
*
Sudah dua tahun aku bekerja di Dewan Babi. Hidup di lingkungan yang nyaris seluruhnya, dihuni oleh Babi membuatku was-was. Aku manusia, aku tak mau menjadi babi! Itulah kekhawatiranku. Setiap hari aku bercermin, memeriksa diri, apakah aku menjadi Babi? Apakah aku mulai gemar makan uang, minum minyak, dan makan sesamaku?
Syukurlah, tidak terjadi apa-apa. Aku manusia, aku tidak berubah! Aku bukan babi! Pikirku senang. Banyak manusia yang menggantungkan hidup mereka padaku. Aku harus memperjuangkan mereka. Aku harus tetap fokus pada perjuanganku, jangan sampai aku berubah menjadi babi.
Selama pikiranku masih waras, aku bekerja sebisaku, bertahan dari pengaruh para babi yang mengajakku menjadi babi. Tidak, aku tak mau. Aku masih ingin jadi manusia, aku tak ingin jadi babi!
*
Empat tahun telah berlangsung. Aku sudah lama sekali tak bercermin maupun memeriksa diriku. Lingkungan kerja yang memaksa diriku bekerja sebagai babi membuat kemanusiaanku perlahan-lahan lapuk.
Jantungnku berdetak tak karuan. Sesekali aku mulai makan uang, minum minyak, dan makan babi. Oh tidak! Apa yang kulakukan? Aku manusia! Jangan sentuh mereka! Pikirku. Mereka akan membuatku menjadi seperti babi.
*
Lima tahun sudah berlangsung semenjak aku mulai mencoba-coba makan uang, minum minyak, dan makan babi. Aku pun akhirnya memberanikan diri untuk bercermin.
Betapa kagetnya aku. Yang kutakutkan pun akhirnya terjadi juga.
Gawat, aku jadi babi.
Selamat datang di Republik Babi.
Bandung, 25 Oktober 2005
Popularity: 14% [?]
Tags: CerpenIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
nama yang unik…tulisan yang menarik Mas.
makasih komen-nya mas, semoga anda menikmati cerpen ini. :)
wah gitu tho…
hm, klo orang HI bkin cerpen, jadinya beda ya. Politik banget ini :D
dan yah, republik babi itu adalah indonesia? wow, karena serakahnya ya?
sindirannya telak banget mas… ^_^
mudah2an tak ada yang menjadi babi
yaah, gw lupa2 inget, kalau ga salah gw bikin ini pas lagi hangat2nya berita mengenai DPR beli sertifikat.
thanks udah baca :)
Unique name. Unique articles. Inspiring Blog.
I’ll recommend your blog to all my friends
terima kasih mas sigit, senang mendengar anda menikmati artikel2 saya :D
Aku suka dengan cerita yang menjadi asal usul penamaan alamat web ini. Inilah realita yang sangat riskan. Telah banyak “babi babi” yang berkeliaran di sekitar kita. Tentu harapan kita tentu adalah semoga tdk terjebak dlm dominasi “babinisasi”. Buat Mas Calvin teruslah berkarya, saya suka dengan tulisan2 Anda. Terima kasih.
terima kasih atas komentarnya pak ibnoe. Saya harap sistem negeri kita yang terlalu karatan untuk diubah ini lantas tidak mengubah kita juga menjadi karatan, dan suatu saat kita bisa berubah dengan orang-orang baik dan bersih yang ada di pemerintahan. :)
…Mmm, saya pribadi cenderung menilai cerpen anda terlalu sarkastis. Bahkan subjek yang disorot terlalu eksplisit dipaparkan, mudah ditebak Anda menyortir siapa. Saya jadi ingin tanya, tidak adakah binatang lain yang sekiranya lebih pantas untuk dijadikan simbol kerakusan para elite politik? Saya jadi ingin selidik lebih dalam, nampaknya Anda punya sentimen pribadi terhadap sosok “babi 32 tahun” itu. Tapi…, yah, itu hak anda untuk mengemukakan dan mencurahkan ekspresi.
Sebagai manusia yang sama2 beragama, mari kita berusaha untuk tidak berlaku seperti “babi-babi” yang Anda dan saya benci.
Salam inklusif.
wough, dengan sangat terkesima saya terkesan membaca tulisan ini.
baru beberapa hari yang lalu seekor babi super rakus telah meninggal, tapi sekarang dapat dirasakan bahwa babi besar itu walaupun memang super rakus namun membawa republik ini lebih baik daripada babi-babi sekarang di republik babi saat ini.
cerpen ini sungguh bagus banget deh. TOP!!
@aris
ya, saya harap kita sebagai “manusia” tidak akan berlakui seperti “babi”. sewaktu saya menulis ini, saya terpengaruh oleh karya George Orwell “Animal Farm”. Disana babi digambarkan sebagai sosok yang rakus.
@sxell
terima kasih atas pujiannya, walau saya tidak bisa membedakan apakah hal tersebut merupakan pujian atau sarkasme.
Calvin… I’m so grateful that I get the chance to know you eventhough you almost always forgot my name. haha!!! BLOG nya INSPIRING banget! semoga apabila suatu saat kelak, anda berada di kursi dewan perwakilan babi (amen. our country desperately needs people like you), janganlah berubah seperti yang anda tulis di cerpen anda. OKEH?? HIdup Republik Babi! (i mean..your blog. not our republic. hehe)
@katrin
gw ga mau jadi DPR ah, gw kayanya ga mungkin ada kesempatan buat masuk ke dalam sistem. plus, kalau gw jadi pns, sudah pasti gw ga boleh mengkritisi pemerintah dan dpr kita.
yaah, tapi gw yakin ada kok orang2 di DPR yang memang memperjuangkan hak kita, tapi justru karena terlalu bersih, mereka malah jadi dibenci dan akan dihempas oleh sistem, malang sekali ya?
Mottonya apa ni?
Jangan cuma Baru Bisa Babi? :))
Terus buat negara fiktif dong… :D
@ivan
wah slogan bagus tuh van, hahaha
emang emang kepikiran mau bikin republik lain, tapi lagi mandek nih~