
Anjing Berkaki Dua
~Untuk seorang gadis yang tak pernah kukenal~
Gadis itu sekarang lebih suka mengurung diri di gubuk reot. Gubuk yang tak jauh dari rumahnya sederhana. Tempat yang dinamakan gudang oleh orang-orang sekitarnya.
Dia menundukkan mukanya. Mukanya yang berparas manis dan cantik. Usia gadis itu masih 16. Usia dimana dia masih bisa bersenang-senang, usia dimana dia bisa pergi kemana saja untuk menghirup udara dipagi hari maupun menikmati senja matahari. Tapi tidak, gadis itu sudah tak memiliki mata untuk menikmati hidup. Dunia, pikirnya, adalah tempat yang brengsek. Tempat yang banyak anjing.
Dia terus menerus mencuci tangannya dengan sebaskom air yang mungkin sudah tak bersih lagi. Di sekelilingnya, banyak lalat berterbangan, tapi dia tidak jijik, karena dia lebih jijik dengan anjing, terutama anjing-anjing yang bisa menyamar jadi manusia dan berjalan dengan dua kaki sambil pura-pura mengatakan bahwa mereka melidungi manusia.
Benci anjing. Benci Anjing. Aku benci Anjing.
*
Hari itu hari biasa. Gadis itu berasal dari kalangan menengah kebawah. Dia bekerja untuk menyokong orang tuanya, yang bukan apa-apa dibandingkan manusia berjas dan hobi makan uang di Republik ini.
Dia hanya penjaga sebuah kios telepon seluler. Dia biasa berjualan pulsa disana. Parasnya yang manis ditambah sikapnya yang ramah kepada pelanggan membuat dia disukai oleh orang-orang yang mampir kesana.
Sayang, keramahan gadis itu ternyata dimanfaatkan oleh seekor anjing yang kebetulan, menyamar menjadi manusia. 11 Mei lalu dia mampir ke toko gadis itu, dan dengan atribut penjaga sipil. Ah, tutur mata yang lembut, pikir gadis itu. Pak polisi itu ramah sekali padaku, pikirnya disela-sela kesibukan tangannya menukarkan kembalian untuk sosok yang seperti manusia itu.
Kamu manis sekali. Hari pertama ia memuji.
Kamu cantik sekali. Hari kedua ia berkata.
Kamu mau diantar pulang? Hari ketiga ia bertanya.
Dua hari cukup dengan beberapa kata rayuan membuat gadis itu merasa leleh dihadapan sosok itu, sosok yang tampak seperti manusia berseregam polisi di hadapannya itu.
Gadis itu mengangguk senang dan membereskan dagangannya. Dia berharap ini menjadi awal dari hubungan yang baik antara mereka kedua, begitulah pikirnya dengan sangat lugu.
Mereka berdua lalu menaiki mobil jip hijau itu. Di mobil itu si pak polisi bertanya, maukah ikut nonton konser bersamaku?
Konser? Konser apa pak polisi.
Konser dangdut, bukankah kamu senang dangdut sepertiku? Tanyanya dengan suara lemah lembut.
*
Tak terasa gadis itu dan pak polisi sudah melewati dua jam bersama.
Pak polisi, maukah anda mengantar saya pulang ke rumah sekarang? Tanyanya sambil tersenyum.
Ini masih sore, tunggu saja sebentar lagi, jawabnya dengan bentakan.
Gadis itu terkaget. Pak polisi?
Jip itu berjalan. Berjalan ke jalan gelap. Makin gelap. Pikiran-pikiran gadis itu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang kian menghantui pikirannya.
Pak polisi? Kenapa kita masuk gang ini? Rumah saya kan ke arah sana?
Pak Polisi? Kenapa kita berjalan semakin jauh? Bukankah kita sudah kehilangan arah?
Pak polisi? Kenapa saya harus mampir ke rumah anda?
Pak polisi? Kenapa saya harus membuka baju dihadapan anda?
Pak polisi? Kenapa anda menyentuh-nyentuh saya?
Lalu tiba-tiba orang yang disangka polisi itu berubah wujud. Gadis itu berteriak-teriak ketakutan. Bulu-bulu tumbuh dari tubuh itu. Sosok pak polisi yang dikiranya manusia, ternyata seekor anjing yang mirip serigala. Sosok itu lalu membuka mulutnya. Gadis itu melihat dengan jelas air liur dan taring-taring tajam yang menyembul dari langit-langit mulutnya yang bau, bau sangat busuk, sebusuk pikiran anjing itu
Gadis itu berlari ke arah pintu. Dia berusaha membuka pintu kamar itu dengan ngeri
Tolong-tolong! Ada anjing! Saya benci anjing! Tolong! Seseorang!
Tapi gadis itu diterkam si anjing. Gadis itu tersungkur di bawah tikaman badan si anjing. Dia lalu menjilat-jilat leher si gadis. Air liur bercampur air mata. Dia lalu merobek-robek pakaian gadis itu dengan kedua cakarnya yang tajam. Lalu di mengendus-endus kewanitaan gadis itu. Ekornya yang panjang lalu berubah tegak. Matanya memancarkan napsu binatang. Dia sudah siap memakan mangsanya.
Jangan…! Tolong…! Saya benci anjing!
Di tengah-tengah perjuangannya untuk meloloskan diri dari terkaman dan jilatan si anjing, gadis itu melihat sesosok bayangan sedang duduk sudut ruangan itu. Pakaiannya seperti manusia.
Manusiakah kamu!? Tolong saya! Tolong saya dari anjing ini! Teriaknya penuh harap.
Lalu sosok itu berdiri. Alangkah terkejutnya gadis itu. Ternyata sosok itu juga anjing. Anjing itu sedari tadi merekam tindakannya yang sia-sia untuk melarikan diri dari tempat itu.
Ya Tuhan… tolong… tolong…
Tiba-tiba kedua anjing itu melolong dengan suara tinggi. Bermandikan keringat, gadis itu merasa ketakutan.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Gadis itu kembali berharap, adakah manusia yang menolongnya? Adakah manusia yang mendengar teriakannya?
Tolong! Kata gadis itu sambil berlari ke arah pintu. Berharap menemukan seorang manusia yang mau menolong dirinya dari dua anjing yang hendak memangsanya.
Gadis itu makin ketakutan. Sosok yang di hadapan pintu itu, sosok yang ia kira sebagai pelindung manusia itu, ternyata sama-sama seekor anjing juga.
Ketiga anjing itu lalu menerkam gadis itu secara bersamaan.
Gadis itu tidak bisa mengingat apa-apa, kecuali bahwa ia merasakan gigitan taring, dan jilatan-jilatan dari anjing, yang pada beberapa waktu yang lalu ia sangka sebagai manusia.
Gadis itu dimangsa dan dimakan oleh tiga ekor anjing malam itu.
Lalu dia diantar pulang oleh salah satu dari mereka dengan kondisi sangat kotor. Kotor karena jilatan yang mereka berikan ke gadis itu. Kotor karena mereka menodai gadis itu dengan sebatang bagian tubuh mereka yang jorok dan bau. Anjing-anjing itu sangat puas. Mereka sangat senang menyamar menjadi manusia, apalagi jika mereka disangka sebagai pelindung yang mereka mangsa.
*
12 Agustus. Gadis itu bersama orang tuanya, pergi ke sebuah polres tempat anjing-anjing itu berada. Petugas hanya tertawa terbahak-bahak saat mendengar pengaduan gadis itu.
Bicara yang jelas, gadis kecil. Tak ada anjing di pos disini! Kata petugas itu dengan pandangan sangat melecehkan.
Mereka menyamar menjadi manusia, pak. Kata si gadis dengan penuh rasa jijik ke orang di hadapannya itu.
Lalu orang itu mempersilahkan kasus gadis itu diproses lebih lanjut.
Gadis itu lalu dibawa ke sebuah ruangan terbuka. Beberapa polisi yang tampak seperti manusi menanyakan dia dengan pertanyaan-pertanyaan seperti yang ditanyakan anjing.
Bagaimana rasanya diperkosa binatang? Perih atau enak?
Bagaimana rasanya diperkosa anjing? Kamu mau lagi?
Bagaimana rasanya digagahi? Kamu suka kan?
Si gadis menjawab, “perih” dan “tidak” dua kali. Lalu si polisi itu menulis “Perih-perih enak”, “ya”, dan “suka” di laporannya. Ternyata yang menanyakan pertanyaan tersebut adalah anjing yang menjilat-jilat tubuhnya semalam.
*
“Jangan ngawur, tak ada anjing di polres kami, saya bisa jamin itu.” kata Kepala polres yang kepalanya besar sekali, sampai-sampai tidak melihat ada anjing menyusup kantornya.
Tapi pak, tolong proses nama-nama yang disebutkan anak saya. Anda mengatakan bahwa anda petugas keadilan!? Hardik ayah gadis itu.
“Tuan, tolong jaga bicara anda, atau anda kami tangkap dengan tuduhan penghinaan dan pencemaran nama baik.” jawab si kepala polres yang tak menerima anak buahnya dipanggil anjing. Dengan nada tinggi, ia menambahkan bahwa tak seorangpun boleh bertemu dengan anak buahnya yang disangka anjing itu.
“Ini hak saya melarang orang lain bertemu dengan anggota saya.” katanya.
Kepala polres yang mengaku-ngaku dirinya sebagai manusia itu juga melarang pengacara dan wartawan yang mencium kasus tersebut menanyai para polisi yang disangka anjing itu.
Kasus itu lalu tertelan oleh lautan berita media massa. Gadis itu lalu menjadi anonim. Orang tak akan mengingatnya. Orang hanya tahu bahwa dia hanya sebuah potongan berita tak penting di sebuah artikel media massa. Dia bukan siapapun.
Hanya anonim.
Masih banyak anjing berkeliaran.
*
Gadis itu masih mencuci tangannya, tubuhnya, mukanya yang cantik dengan sebaskom air.
Tak ada keadilan untuk manusia.
Mungkin ada, tapi untuk anjing.
Aku benci anjing.
Bandung, 4 Januari 2005
Popularity: 6% [?]
Tags: CerpenIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
Recent Comments