
Ada yang tidak menyenangkan saat saya membaca kompas pagi, ada berita bahwa empat tayangan dinilai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bermasalah, tiga diantaranya adalah Bleach, Naruto, dan Detective Conan
sumber:
http://www.kapanlagi.com/h/0000245591.htmlKomisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengumumkan empat tayangan stasiun TV bermasalah sebagai hasil pemantauan tim panelis KPI pada periode Juni 2008 yang dikhususkan pada tayangan anak dan remaja.
“Judul tayangan bermasalah itu adalah `Bleach` di Indosiar, Cerita SMA di RCTI, `Detective Conan` di Indosiar dan Naruto di Global TV dan Indosiar,” kata Koordinator Pemantauan Langsung KPI Pusat, Yuzirwan Uyun dalam jumpa pers sosialisasi hasil pemantauan periode Juni 2008 di kantor KPI Jakarta, Selasa.
Yazirwan mengatakan empat tayangan tersebut dinilai oleh tim panelis yang diketuai oleh tokoh pendidikan Arief Rahman melanggar UU Penyiaran No.32 /2002 dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).
Tim Panelis yang terdiri dari Arief Rahman (Ketua), Dedy Nur Hidayat (Wakil Ketua), Seto Mulyadi, Nina Armando, Bobby Guntarto, Razaini Taher dan dibantu 11 orang analis, telah memantau 84 judul tayangan dari 316 episode yang disiarkan oleh sembilan stasiun TV nasional (Indosiar, SCTV, RCTI, Global TV, ANTV, TVRI, TransTV dan Trans7).
Yazirwan mengatakan pemantauan yang dilakukan 14 - 29 Juni 2008 kali ini difokuskan pada tayangan anak dan remaja dengan titik berat pada perlindungan terhadap anak dan remaja dengan tiga jenis tayangan yang dipantau yaitu film animasi, sinetron dan variety show.
Pada kesempatan tersebut, anggota tim panelis KPI, Nina Armando mengatakan tayangan animasi “Bleach” di Indosiar setiap Minggu pukul 11.00 ini dinilai tidak cocok untuk anak karena menampilkan cerita dunia mistis dan penuh kekerasan yang ditampilkan secara ekspresif.
“Tayangan itu tidak pantas ditampilkan pada jam tayang pagi hari libur, tidak menampilkan klasifikasi acara. Seharusnya dipindahkan jam tayangnya menjadi lebih malam dengan menampilkan klasifikasi R (Remaja) dan BO (Bimbingan Orang tua) sekaligus,” jelas Nina.
Sedangkan sinetron “Cerita SMA” di RCTI yang ditayangkan setiap hari pukul 19.00, dinilai melanggar peraturan karena ada adegan yang menampilkan secara close up alat kelamin pemeran anak laki-laki, dan tidak memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan.
“Tayangan ini banyak menampilkan tokoh pemain anak-anak dalam setting yang tidak pas, banyak menampilkan pelecehan terhadap orang terutama yang bertubuh gemuk dan tidak mencantumkan klasifikasi acara,” jelas Nina.
Sementara film animasi “Detective Conan” di Indosiar yang diputar setiap hari Minggu pukul 08.30 menampilkan cerita yang tidak tepat bagi anak, dan hampir pada setiap episode menampilkan secara detail tentang rekonstruksi pembunuhan.
“Acara ini tidak tepat dikategorikan sebagai film anak, tidak menampilkan klasifikasi acara dan seharusnya dipindah ke jam tayangnya menjadi lebih malam dengan menampilkan klasifikasi R dan BO sekaligus,” kata Nina.
Sedangkan, film animasi Naruto di Indosiar dan Global TV menampilkan kekerasan secara ekspresif baik bersifat fisik maupun mistis yang terkadang disertai darah.
Nina mengatakan Naruto ini juga tidak tepat dikategorikan sebagai film anak, tidak menampilkan klasifikasi acara dan seharusnya dipindah ke jam tayangnya menjadi lebih malam dengan menampilkan klasifikasi R dan BO sekaligus.
Sementara hasil evaluasi secara umum tayangan TV yang dipantau oleh tim panelis, Nina menjelaskan banyaknya acara yang tidak dicantumkan klasifikasi acara berdasarkan usia khalayak penonton, banyak film animasi yang memuat materi tidak sesuai untuk anak misalnya memuat kekerasan.
“Adanya tampilan yang tidak memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan, ada adegan-adegan yang melibatkan anak dalam setting yang tidak pantas dan ada acara yang menampilkan pelecehan terhadap orang lain,” kata Nina.
Dia menjelaskan periode pemantauan KPI pada Juni 2008 ini lebih memfokuskan pada tayangan anak dan remaja dengan pertimbangan anak dan remaja yang sering mengkonsumsi tayangan TV, serta anak merupakan kelompok pemirsa yang paling rentan terpengaruh TV.
Sementara Arief Rahman mengatakan tayangan kartun Tom and Jerry dan Popeye juga perlu diwaspadai karena adanya tayangan yang tidak pantas dilihat anak-anak.
Arief memperingatkan orang tua agar ikut menemani anak menonton film kartun karena tidak semua film kartun tersebut pantas ditonton oleh anak-anak.
Tidak bisa saya bantah bahwa Bleach, Detective Conan, dan Naruto memang memiliki adegan kekerasan, tapi sekali lagi, target demografi mereka ditujukan pada anak remaja (shonen), bukannya anak berumur 5-10 tahun. Yang saya sesalkan adalah, ada stereotip dari stasiun tv Indonesia bahwa anime adalah tontonan anak-anak. Tidak bisa disalahkan, karena anime yang pertama kali muncul adalah Doraemon, sehingga seterusnya, ada kutukan yang terbawa bahwa pasar anime hanyalah anak-anak. Menyedihkan :(
Saya dulu ingat, sebelum ada internet, kita tergantung pada stasiun TV untuk menonton anime, itupun kalau stasiun TV-nya baik dan tidak menghentikan tayangan di tengah jalan. Tapi sekarang? Saya sudah tidak pernah nonton TV untuk nonton anime. Telinga saya anti yang namanya dubbing, apalagi lagu yang didubbing.
Tapi ya sudahlah, kita tidak usah pusing dengan hal ini, jika dulu penggemar anime di Indonesia bisa marah karena Saint Seiya berhenti di tengah jalan karena protes dari orang tua lantaran banyaknya adegan kekerasan, sekarang hal itu sudah tidak berguna.
Toh sebagian besar penggemar anime dan manga di Indonesia (juga di dunia) bisa menggunakan internet untuk mencari judul anime/manga favorit mereka yang pernah jadi korban ketidaktahuan orang tua dan stereotip anime di Indonesia.
Saya rasa anime akan terus mendapat kutukan sebagai “tontonan anak-anak”. Tapi penggemar anime di Indonesia tidak usah terlalu pusing. Internet akan selalu memberikan jalan keluar. Untuk apa nonton anime yang didubbing kalau ada fansub? ;)
Popularity: 17% [?]
Tags: Anime, Indonesia, OpinionIf you would like to make a comment, please fill out the form below.
btw kenapa sih orang pada seneng liat film anime? udah gede kok masih pada nonton cartoon sih? **No offense bro** :D
gmn tuh sejarahnya orang2 Jepang tergila2 dengan komik & anime? Anda kan seneng budaya jepang, jadi bagus juga tuh kl tulis tentang hal ini…
@mas tedy
mungkin karena memang dari kecil saya membaca hal2 yang berasal dari budaya popjepang (manga, anime, lagu jepang) jadi wajar saja kalau saya lebih menyukai kultur pop jepang daripada kultur pop barat (amerika, mtv, hollywood, dll)
Bisa dikatakan, selera saya terbentuk karena dari kecil inilah materi yang saya “makan” ;)
dan menurut saya, cerita anime-manga lebih membumi dibandingkan cerita2 serupa dari barat.
Mending nonton Hayate no Gotoku ato Code Geass =)) *ga nyambung*
@ivan
eiits, nonton code geass juga neh ternyata???
Yup2x. Baru dikasitahu temen, langsung tancep donlot.
Nonton Hayate no Gotoku deh, lu kan udah sering nonton anime, harusnya ngakak nontonnya.
baru anime aja, pemerintah dah kebakaran jenggot. Kasih hentai aja sekalian
ng…
sampe sekarang, kalo lagi nonton anime, ada aja yang coment “uda segitu gedenya masi aja suka nonton gituan…” =_=;
itulah tipe pemikiran orang indonesia.. blom semua orang bisa lebih terbuka untuk menerimanya.. bisa jadi mereka menganggap hal ini sebagai efek negatif dari globalisasi kebudayaan.. hehe..
saya sendiri karena dari kecil sudah menyukai hal - hal yang berbau jepang.. maka saya lebih menyukai hal -hal tersebut,, bahkan sampai skripsi saya pun berbau Manga.. dan tentunya dikaitkan dengan Hubungan internasional yang menjadi jurusan saya.. tapi saya terkadang merasa seperti dianggap sama seperti anak kecil.. karena masih suka menonton anime dan manga.. >.<
padahal mereka yang berkomentar belom tentu mengerti mengenai apa yang kita baca.. karena manga dan anime sendiri memiliki kategorinya sendiri… anak SD pasti akan kesulitan mencerna manga seperti 20th century boys.. hehehehe…
@calvin sepertinya kita sejenis.. hehe.. sama2 dibesarkan oleh pop culture jepang yang menjadi “makanan” kita.. hehe..
Thank God I stopped caring. A long time ago.
- a full fledged 2d-kon. and proud of it -
Artikelnya ada benarnya juga. Toh KPI tidak bilang itu tayangan yang “salah”. Ratingnya yang salah. Kategorinya salah, jam tayangnya salah.
IMHO, ini justru sebuah langkah anime dipandang sebagai sesuatu yang bukan lagi ekslusif bagi “anak-anak”.
@pierre
hahah, betul, gw lebih banyak makan media jepang daripada barat, lagu mtv aja gw ga pernah dengar
@velvet
moga2 sih demikian, tapi berhubung stasiun tv pake dubbing… ah ya sudahlah yaaaa :D
Sebenarnya secara pengamatan gw siaran anime di tv indonesia tuh udah cukup aman bagi anak kecil, namun para pemirsa atau pengamat kebanyakan hanya mengambil segi negativ saja dari siaran anime (bukan cartoon).
gw ambil contoh yg lagi populer aja
NARUTO, anime ini kan ceritanya tentang perjalanan menuju ninja
terhebat. tapiiiiiii banyak yang salah ngartiin terutama anak
kecil, mereka ngartiin bahwa mereka harus menggunakan
kekerasan untuk menggapai suatu hal. jadilah anime ini di cap
sebagai anime kekerasan.
DETEKTIF CONAN, anime ini mengajak kita untuk memecahkan misteri yang
sangat-sangat rumit yang dapat kita pelajari jika kita
ingin menjadi detektif. tapiiiiiii mereka ngartiin
kalo anime ini mengandung unsur kekerasan karena
mereka melihat anime.ini dari segi yang salah
(negatif).
Coba deh semuanya liat acara anime di jepang….banyak banget yang mengandung unsur kekerasan, pornografi, dan mistis. tetapi pemerintah jepang adem ayem aja tuh dan moral bangsa mereka pun tidak rusak, liat aja di jepang malah makin maju negaranya (mungkin karena anime)
dan kalo gw liat sih di jepang ga ada tuh anak kecil meninggal gara-gara anime (seperti yang di indonesia).
extra info: untungnya blom ada front anti gay, bisa2 naruto diprotes karena mengandung konten homoseksual ringan.