Kultur manga dan anime merupakan bagian dari produk globalisasi Jepang, terlepas dari saratnya nilai konsumerisme dan promosi yang luar biasa dari produk-produk tersebut, sebetulnya kita bisa melihat anime berpotensi digunakan sebagai bagian dari diplomasi publik yang kreatif.
Kita harus mengakui bahwa tema manga dan anime yang sering muncul di pasaran sarat dengan tema klise: seorang pahlawan titisan dewa atau semacamnya yang memiliki kekuatan khusus untuk menyelamatkan dunia, atau cerita cinta remaja-remaja putri yang sarat cinderella complex dan tidak kalah buruk dibandingkan sinetron-sinetron yang menghiasi layar kaca kita.
Namun terdapat juga beberapa titel yang memiliki tema cerita cukup pintar dan dapat meraih cukup banyak pangsa pasar. Contohnya adalah Arjuna, sebuah anime yang menceritakan mengenai kondisi dunia yang sudah mengalami kerusakan lingkungan yang sangat parah. Terdapat juga manga bernuansa politis berjudul Ministry of Finance yang menceritakan tentang kebobrokan perekonomian Jepang.
Selama ini kita mungkin menganggap produk anime/manga hanyalah sebatas produk kultur modern Jepang, padahal sesungguhnya, dampak manga tidak hanya sebatas itu.
Diplomasi publik sendiri bisa diartikan sebagai penyebaran nilai-nilai suatu negara yang dilakukan oleh badan resmi suatu negara dan atau pihak non-negara, seperti NGO ataupun masyarakat sipil. Dalam jangka penjang, diplomasi publik dilakukan untuk membangun citra suatu negara. Contoh nyata dalam kasus ini adalah Jepang. Jika Jepang tidak mengglobalisasikan produk anime-manganya ke luar, mungkin tidak akan ada orang yang tertarik mempelajari bahasa Jepang yang dikenal sulit, maupun ada orang yang mau mempelajari budaya jepang karena negara tersebut secara historis pernah menjadi agresor.
Dengan mengekspor produk anime-manganya, Jepang mendapatkan setidaknya dua keuntungan, pertama, membaiknya citra Jepang di mata generasi muda yang persepsi dan seleranya dibangun oleh selera kultur modern Jepang, yang kedua, Jepang menjadi stream selain dominasi budaya Amerika yang diwakili oleh MTV dan Hollywood, dan yang ketiga tentu saja, hal ini menambah pemasukan industri-industri animasi dan perusahaan penerbitan manga di Jepang. Tentu saja pandangan ini bisa diperdebatkan, apalagi jika kita melihat masalah ini dari kacamata hegemoni intelektual milik Gramsci.
Di Jepang sendiri, artis-artis baru bermunculan dengan membuat karyanya secara indie. Kultur seperti ini dinamakan doujinshi(同人�?E/span>
.
Umumnya para fans dari suatu produk anime/manga/game tertentu
mempublikasikan sendiri karya mereka secara terbatas. Produknya bisa
berupa manga, novel, music, bahkan game yang memakai konsep serupa dari titel yang mereka gemari. Bahkan di Jepang, ada acara bernama Comiket (?????) yang menjadi ajang konvensi komik terbesar di dunia, dan mengikutsertakan berbagai produk doujinshi dari artis-artis amatir. Beberapa nama besar seperti Clamp awalnya memulai karir dari doujin-ka, sebelum akhirnya mereka mulai berkarir menjadi salah manga-ka paling populer di luar Jepang.Ada baiknya agar para penikmat manga-anime di Indonesia terlibat juga
dalam proses kreatif pembuatan manga-anime. Tidak bisa dipungkiri bahwa
manga-anime sudah menjadi salah satu bagian kehidupan generasi muda
Indonesia. Tidak ada salahnya jika kita juga berani memanfaatkan
anime-manga untuk kepentingan kita, dan menjual ide-ide kita ke pasar
dengan media yang mudah dimengerti dan disukai oleh masyarakat.
Baru-baru ini, Indonesia juga mengikuti Konferensi Animasi Asia-Pasifik di Jepang.
Sejauh ini, Indonesia hanya merupakan pasar yang menarik untuk Jepang,
tanpa adanya kemajuan berarti dalam memproduksi manga atau anime.
Penerbit utama yang menjadi pemegang lisensi mayoritas judul-judul
manga yang ada di pasaran, dipegang oleh Gramedia dibawah Elex Media
Komputindo, M&C, dan Level Comic. Ada usaha untuk menerbitkan manga
lokal, tapi jumlahnya sangat terbatas.
Pada umumnya, manga di Jepang diterbitkan per chapter dengan format majalan serial sebelum dikompilasi menjadi tankoubon (???).
Di Indonesia, manga lebih banyak dikonsumsi dalam format Tankoubon,
hanya baru-baru dalam dua-tiga tahun terakhir saja Elex Media dan
M&C menerbitkan majalah manga seperti Shonen Magz, Shonen Star,
Hanalala, Nakayoshi dan Cherry. Namun karena pemegang lisensi dari
majalah tersebut dipegang oleh penerbit Jepang, artis-artis lokal tidak
diperbolehkan mengikutsertakan komik original mereka di dalam majalah
tersebut.
Sudah ada pelopor majalah serial manga Indonesia seperti Splash
untuk saat ini, majalah manga pertama ini diterbitkan sangat terbatas,
mengingat animo masyarakat yang lebih gemar mengkonsumsi produk impor.
Namun kedepannya mungkin kita bisa optimis melihat peningkatan jumlah
penerbit majalah manga indonesia dan mendorong artis-artis lokal untuk makin terlibat.Untuk saat ini, kultur doujinshi maupun kemauan untuk memproduksi produk anime-manga belum banyak meluas di tengah konsumen Indonesia. Semoga kedepannya, kita bisa melihat perkembangan positif dari artis-artis lokal.
Popularity: 16% [?]
Tags: Anime, Diplomacy, Japan, Manga







SEmoga….. mungkin aku tunggu dari kamu aja yang produksi buatan Indonesia sendiri
salam manis
syafrina
http://syafrina-siregar.blogspot.com
anda bukan pecinta manga and anime ya? terus anda bilang gak ada usaha dari local talents untuk berkarya di bidang manga dan anime? Anda menusuk hati RATUSAN bakat yang sudah menebar di seluruh Indonesia dalam format yang anda sebut doujinshi tersebut, meski tak semuanya bercitra rasa manga konventional.
anda ini nulis kurang riset. GAK PANTES NULIS ILMIAH! CUIH!
Hmm, saya pecinta anime dan manga, saya tahu memang ada event2 yang diselenggarakan oleh animonster untuk menjaring doujin-ka di indonesia, tapi dari sepengamatan saya, masih sangat terbatas dan tidak tidak terlalu dikenal masyarakat umum di luar pecinta anime-manga, tolong koreksi saya jika salah.
tulisan ini saya buat untuk memberikan pemahaman pada pembaca anime dan manga yang tidak terlalu mengenal fenomena tersebut, dan saya sendiri, karena memang tidak terlalu terlibat dalam komunitas tersebut (saya tidak bisa menggambar, maaf saja) sehingga saya tidak akan menulis apa yang saya tak ketahui.
Dan kalau saya boleh sarankan, lebih baik anda belajar netiquitte sebelum menulis komentar di blog seseorang. Saya rasa anda sendiri juga tidak suka mendapat komentar “GAK PANTES NULIS ILMIAH! CUIH!” di situs anda.
saya setuju dengan pendapat Zenstrive, tapi saya ga suka dengan cara perkataannya. alangkah baiknya jika memberi saran/kritik dengan bahasa yang wajar/sopan.
tentunya tidak satu orangpun suka bila dicaci-maki. saya rasa penulis juga bersedia untuk menerima kritikan yang membangun. makasih.
Tapi sepertinya penulis mang nggak seharusnya ‘melukai’ perasaan para J-Lovers. Ga usah muna deh kalo Jepang dah menjajah kita. Liat deh orang2 Jepang yang sangat disiplin, makanya bisa maju dengan pesat. padahal dah dibom ma amrik. kita?
Ga salah kalo kita masih punya budaya ‘plagiat’, namanya juga negara berkembang.(perasaan dari jaman nenek gue SD, di bilang negara “berkembang” terus.kapan jadi negara “berbuah”?)
Komentator nomer dua alias zenstrive sebaiknya belajar etika.
hmm, maaf kalau saya agak melukai perasaan j-lovers, saya sama sekali tidak bermaksud demikian, karena sesungguhnya saya sendiri tidak terlalu mengetahui bagaimana perkembangan yang sudah ada, dan mungkin kedepannya saya akan merevisi tulisan ini. Mohon maaf sekali lagi kalau ada yang tersinggung dengan tulisan saya, saya sama seperti kalian, pecinta budaya modern jepang, tapi saya berusaha membuat tulisan agar bisa menengahi para fans dan orang awam, sehingga judul tulisan saya pun saya akali agar tidak terlalu “alien” di mata kedua belah pihak =)
Lho, setelah saya baca2 ko ga ada statement yg menyatakan ‘ga ada usaha dari local talents untuk berkarya’, sih?
Menurut saya, mangaka di Indonesia sudah banyak, sekolah2 untuk menjadi mangaka juga sudah didirikan. Bahkan studio2 desain, banyak juga yg berorientasi pada gaya manga (dapat dilihat di toko2 buku terdekat, buku2 tutorial yg ber-cover karakter manga
)
Pendek kata, manga sudah merambah negeri ini melebihi kepopuleran komik original Indonesia.
Tapi kultur Indonesia tidak hanya terletak pada komik semata, lihat tari-tarian kita, instrumen musik, dan kerajinan-kerajinan tangan, itu semua mendapat perhatian lebih dari negara-negara lain (apa penduduk negara kita juga memberi perhatian lebih?), termasuk Jepang.
So, seperti timbal balik pembelajaran budaya gitu, dah!
usaha ada, respon pasar yang masih harus diperjuangkan
Saya juga awalnya menonton anime hanya untuk iseng, hingga sampai skarang terus berusaha agar komik buatan saya bisa diterbitkan. Sayapun berharap bahwa pminat manga di ind tdak hanya membaca komik luar, sy harap mereka jg bs menghargai karya anak negri