Anda Punya Kebiasaan Membentak?

By Calvin Michel Sidjaja | Mar 27, 2008
   Show Original   

Hari ini saya mengalami hari yang agak jelek. Pasalnya, hari ini saya mengalami pertengkaran dengan papa saya, karena masalah yang sepele. Masalahnya sepele, bener, tapi nada suara tinggi papa saya saat membicarakan masalah sepele ini lantas membuat emosi saya terpancing dan saya pun balas dengan nada tinggi. Dan saya akhirnya berdebat dengan emosi. Sepanjang perjalanan pulang dari rumah tante saya, kami berdua akhirnya diam-diam-an. Saya sempat mulai membuka topik pembicaraan, tapi dia balas dengan acuh tak acuh.

Keluarga saya berada dalam lingkungan budaya Makassar, dan seperti yang mungkin anda sudah ketahui/alami, orang makassar sering berbicara dengan nada membentak, walau mereka tidak bermaksud demikian. Tapi saya tumbuh di lingkungan Jakarta, Tangerang, dan terakhir, Bandung dimana tutur katanya sopan-sopan, cukup halus, dan sangat jarang saya mendapat bentakan. Tapi dari kecil, kalau saya papa saya kalau menegur kesalahan saya, selalu dengan nada membentak. Mengerikan sekali rasanya, setiap kali dia membentak saya, saya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Dan kalau dia menambahkan kata bahwa saya bodoh sekali, saya merasa ingin kabur dari rumah saja.

Apa menurut anda saya tidak dewasa jika saya merasa sakit hati karena saya merasa dimarahi oleh papa saya? Ini bukan yang pertama kalinya saya sakit hati, dan apa yang saya lakukan? Saya selalu mengalah. Diam saja. Berpikir bahwa seiring berlalunya waktu, mungkin kita akan bisa memulai percakapan lagi.

Saya sejujurnya adalah orang yang sangat jarang marah, tapi saya juga tidak suka kalau dibentak-bentak, bahkan oleh anggota keluarga yang telah saya hadapi selama bertahun-tahun. Sebagai anak saya dipaksa mengalah oleh sikap seorang ayah yang tidak pernah berbicara halus kepada anaknya. Papa saya juga alergi meminta maaf. Tampaknya dia cuma mengenal penggunaan kosa kata tersebut untuk orang lain diluar anggota keluarga.

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Pepatah tersebut terkadang tepat. Anda pernah merasa sakit hati karena orang tua anda lebih ramah kepada anak orang lain daripada anda? Bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan dimana orang tua mereka gagal memberikan fungsi parenting, hal seperti itu kerap terjadi. Saya pernah membaca artikel bahwa pengaruh ayah kepada anaknya besar sekali. Dukugan moriil dari seorang ayah sebetulnya bisa meningkatkan kepercayaan diri seorang anak. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang ayahnya sendiri, tidak bisa berfungsi penuh dalam hal fathering? Kalau dari pengalaman saya sendiri sih, saya menjadi lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Keabsenan fungsi ayah dalam hidup saya membuat saya sadar bahwa kita tidak bisa bergantung pada orang lain. Kita tidak bisa menuntut orang tua memenuhi fungsi mereka terus menerus, karena mungkin mereka tidak cukup dewasa untuk menjadi seorang orang tua. Menurut saya, usia seseorag tidak cukup untuk memperlihatkan kadar dewasanya. Bagaimana kita mengukurnya? Cara yang paling simpel tentu, lihatlah apakah mereka bisa meminta maaf dan mengakui bahwa mereka salah. Jika mereka tidak pernah bersikap demikian, mungkin kita harus mempertanyakan apakah mereka benar-benar dewasa atau tidak.

Dampak terburuknya? Yaah, berhubung saya sudah cukup dewasa, saya hanya bisa mengelus dada. Rasa sakit hati lebih baik disimpan dalam-dalam, dan hanya bisa diceritakan pada orang lain melalui tulisan seperti ini. Semakin saya frustasi bahwa papa saya tidak sesuai dengan yang saya inginkan, saya akan berpikir bahwa masih ada 1000 orang lagi yang mungkin lebih buruk nasib psikologinya dibandingkan saya. Mengalah, mengalah, dan mengalah, itu saja yang selama ini bisa saya lakukan.

Saat ini saya masih tergantung dengan papa saya, hanya dalam transportasi. Saya tidak bisa kemana-kamana kalau diantara karena saya belum bisa menyetir kendaraan. Ketergantungan ini berlangsung selama 22 tahun, dan akan berakhir pada saat saya mendapat kans untuk menyetir mobil dan menmiliki pendapatan sendiri.

Dari sifat papa saya, saya memetik pelajaran: jangan suka membentak orang atau mengatakan bahwa mereka bodoh. Saya tidak mau munafik, tapi prinsip itulah yang saya coba terapkan sepanjang 3 tahun terakhir. Saat saya mengkoreksi orang lain, saya berusaha memilih kata-kata yang sebisa mungkin tidak membuat down. Entah deh apakah saya malah dicap sebagai orang yang suka membentak-bentak atau tidak (karena pasti tanpa sadar, ada kebiasaan dari keluarga yang nyantol di saya).

Hati manusia ternyata sangat halus ya? Terkadang kata-kata yang kita keluarkan, bisa membuat mereka pecah berkeping-keping. Kata-kata terkadang lebih tajam dari pedang. Tidak salah. Lihat saja anagram berikut ini: SWORD = WORDS

Saya mengalaminya sendiri, dan saya tidak mau orang lain juga mengalaminya. Mudah-mudahan tidak semua anak mengalami apa yang saya alami. Mudah-mudahan mereka memiliki figur ayah yang baik, dewasa dalam pemikiran, dan tidak keberatan untuk meminta maaf kepada anak mereka.

Popularity: 7% [?]

Tags:

Related posts

4 Comments so far
  1. herlina March 27, 2008 5:49 pm

    wah bgs bgt nih hr ini topiknya, sgt mirip dengan apa yang saya alami, ternyata diluar sana ada juga pria yang tidak suka dgn bentakan heehehe, kirain hanya wanita saja yg perasaannya sangat sensitive.

  2. hapsari sekar adi March 28, 2008 6:58 am

    Hmm, kalau gw kadang malah berharap Babeh [panggilan gw untuk ayah tercinta] mau ngomong atau bentak atau apapun saat marah. Karena biasanya beliau justru diam seribu bahasa kalau lagi marah besar yang malah membuat bingung :)
    Oiya, satu-satunya indikator kalau dia lagi marah hanya: menggunakan SAYA dan ANDA saat berbicara, setelah sebelumnya memanggil nama lengkap gw.
    Rumput tetangga memang selalu lebih hijau…
    Sabar aja ya Vin….

  3. Verdinand March 28, 2008 7:48 pm

    Gue tinggal dalam keluarga Batak
    jadi bentak-bentakannya lebih keras lagi.
    Cuma satu yang membuat senang adalah
    ketika setelah selesai saling membentak,
    keluarga gue berusaha untuk tenang lagi.
    Senang lagi.

    Jadi, nggak harus dilawan Bokap lu.
    Yakinlah tidak akan selamanya sikap Bokap lu itu.
    Berharap aja supaya dibalik bentakan itu terdapat cinta seorang ayah kepada anaknya,

    Sukses Bro,

  4. Calvin Michel Sidjaja March 30, 2008 9:09 pm

    @sari+verdinand
    lain padang emang lain belalang yah…

Leave a Comment

If you would like to make a comment, please fill out the form below.

© 2007 RepublikBabi, - Daily Blog Tips Themes